Satreskrim Polrestabes Surabaya Ungkap Perdagangan Alat Kesehatan Ilegal

Iklan

Satreskrim Polrestabes Surabaya Ungkap Perdagangan Alat Kesehatan Ilegal

@surabayaaktual
30/04/20
Satreskrim Polrestabes Surabaya saat menunjukkan barang bukti yang berhasil diamankan dari para tersangka (Foto: Istimewa)

Surabayaaktual.com - Unit Tipidek Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil ungkap kasus perdagangan bahan atau alat kesehatan tanpa ISN (izin standar nasional) berupa hand sanitizer dan masker. Kedua barang tersebut diketahui tidak memenuhi standar keamanan dalam ketentuan perundang-undangan.

Dalam kasus ini, Polrestabes Surabaya berhasil mengamankan beberapa orang tersangka. Ketiga tersangka merupakan warga Sidoarjo, yakni JSTG (36), PP (34) dan BHK (29). Sedangkan dua lainnya adalah warga pasuruan, yaitu SB (34) dan LLK (39).

Kanit Tipidek Satreskrim Polrestabes Surabaya, AKP Teguh Setiawan mengatakan, para tersangka ini berhasil diamankan berdasarkan laporan dari masyarakat tentang adanya perdagangan bahan kesehatan tanpa izin.

“Kemudian Unit Tipidek Satreskrim Polrestabes Surabaya melakukan penyelidikan, kemudian ditemukan adanya penjualan hand sanitizer dan masker yang tidak dilengkapi dengan izin edar," kata AKP Teguh saat menggelar konferensi pers melalui daring, Kamis (30/04/2020).

AKP Teguh mengungkapkan, pelaku mendapatkan masker ilegal itu dari Cina dengan mengajukan beberapa dokumen hingga bisa masuk dengan bebas ke Indonesia. Setelah sampai di Indonesia, oleh para tersangka kemudian diperjualbelikan dengan bebas. Bahkan, produk ini diketahui juga belum dilengkapi dengan izin edar yang harus didaftarkan ke Dinas Kesehatan.

“Hand sanitizer ini yang bersangkutan sebagian membeli dari Jogja, dengan berbentuk botolan tanpa merk, dan juga yang bersangkutan membuat sendiri dengan campuran alkohol yang mana di situ dengan campuran yang tidak jelas,” terang AKP Teguh.

Dari keterangan para tersangka, AKP Teguh menyebut, setiap 1 jeriken hand sanitizer isi 5 liter dijual dengan harga Rp 175 ribu, dan perjualbelikan lagi dengan harga Rp 275 ribu. Sedangkan masker per box, dijual dengan harga Rp 215 ribu per 1 karton isi 40 box.

“Dalam 1 karton dijual dengan harga Rp 8.600.000 dan dipasarkan kembali kepada konsumen dengan harga Rp 270 ribu per box. Jadi reseller BHK meraup keuntungan sebesar Rp 55 ribu per boxnya,” tandas AKP Teguh.

Dalam 1 bulan, pelaku JSTG menghasilkan Rp 2,5 juta dari omzet penjualan hand sanitizer. Sedangkan pelaku LLK atau SB beromzet kurang lebih Rp 90 juta. Sementara pelaku BHK, beromzet kurang lebih Rp 60 juta dari hasil perdagangan masker ilegalnya. (SR)