Tewas Didor! Bandar Gede Sabu di Jatim Ini Ungkap Fakta Baru

Iklan

Tewas Didor! Bandar Gede Sabu di Jatim Ini Ungkap Fakta Baru

@surabayaaktual
14/09/20
Foto: Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Jhonny Edison Isir, dan Kasatresnarkoba AKBP Memo Ardian, saat menunjukan BB seberat 28,8 kg, beserta 3 tersangka yang ditembak kakinya | Istimewa

Surabayaaktual.com - Satu pengedar narkotika yang pada Sabtu (12/9/2020) malam lalu diberi tindakan tegas, terukur, dan keras oleh kepolisian ternyata bandar gede (Bede) sabu di wilayah Jawa Timur (Jatim).

Tersangka yang ditembak mati tim Satresnarkoba Polrestabes Surabaya itu berinisial FR (28). Ia yang diketahui tinggal di salah satu apartemen Surabaya, ternyata menguak fakta baru. Dari hasil pengungkapan, sebanyak 28,8 kilogram sabu, dan 14.700 butir pil ekstasi berhasil diamankan Kepolisian.

Tak puas dengan tangkapan tersebut, Kepolisian mengejar Bede yang lebih besar lagi diatasnya. "Kami masih kejar lagi untuk bandar level II dan level I," ungkap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Jhonny Eddison Isir saat konferensi Pers di Mapolrestabes Surabaya, Senin (14/9/2020) sore.

Selain FR, ada tiga lainnya yang dibekuk, yaitu DS (32) warga Sulawesi Tenggara, AS (34) warga Kalimantan Selatan, dan satu lagi Bu (37) tinggal di apartemen yang sama dengan FR.

Hampir sama dengan Bede FR, ketiga tersangka narkoba yang diamankan ditembak. Hanya saja ditembak di bagian kakinya, karena sempat mencoba melarikan diri ketika disergap.

Penangkapan ini awalnya dari penyergapan dua tersangka yaitu DS dan AS. Keduanya ditangkap saat perjalanan menggunakan bus menuju ke Jawa Tengah.

Keduanya sudah diikuti oleh anggota Satresnarkoba Polrestabes Surabaya saat berada di bus. Hingga akhirnya disergap ketika turun dari bus.

"Kami amankan lima kilogram sabu dari tersangka ini. Mereka mengaku mendapat sabu dari napi di lapas di Jatim. Mereka sempat mencoba kabur sehingga terpaksa kami lumpuhkan," jelas Jhonny Edison.

Setelah mengamankan kurir dan pengedar sabu ini, Polisi mendapat informasi keberadaan Bede di salah satu apartemen Surabaya. Alhasil, penggerebekan pun dilakukan di salah satu unit apartemen tersebut.

Benar saja, ada tiga orang di dalamnya. Ada tersangka FR dan Bu, serta satu wanita yang diketahui sebagai kekasih FR. "Saat itu kami amankan 23 kilogram sabu dan 14.700 butir pil ekstasi," terangnya.

Setelah itu, tersangka FR dikeler ke rumah yang dikatakan masih ada sabu-sabu di dalamnya. Tersangka mengaku sabu disimpan di sebuah rumah di Jalan Wonorejo Timur.

Namun, saat tersangka mengambil tas di dalam rumah tersebut ternyata ada senjata tajam di dalamnya dan diarahkan ke anggota. "Kami terpaksa memberi tembakan tegas terukur dan keras pada tersangka FR," ujarnya.

Pihaknya mengaku saat ini masih mencoba mengungkap jaringan atasnya. Salah satunya berkoordinasi dengan Drug Enforcement Administration (DEA) atau organisasi yang memerangi penyelundupan narkoba di Amerika. Pihaknya bekerja sama untuk mengungkap jaringan level I dan II.

"Karena ini menyangkut jaringan luar negeri kami akhirnya berkoordinasi dengan DEA dan Mabes Polri, serta BNN untuk mengungkap. Sudah ada pertemuan dan membicarakan tentang modus serta hal lainnya," ungkapnya.

Sementara itu, tersangka DS yang berada di kursi roda mengaku baru setahun melakukan aksinya ini. Ia mengedarkan sabu yang didapat dari FR.

Dulu DS juga sempat mengedarkan barang haram itu di Surabaya dan wilayah Jawa Timur. Bahkan, ia juga sempat ditangkap dan baru bebas. Kemudian, DS mulai masuk ke bisnis ini lagi, hingga kemudian ia memilih untuk meneruskan bisnis mengedarkan sabu di wilayah Jawa Tengah (Jateng).

"Saya dijanjikan dapat upah Rp 10 juta per kilogram. Namun, harus habis dulu baru dapat upahnya," kata DS yang ditangkap membawa lima kilogram sabu ini. (DAP)